Filsafat : Teologi Kebangsaan Gus Dur

Jakarta 45

Ananto

To ppiindia@yahoogroups.com
Jan 28 at 8:27 AM

Teologi Kebangsaan Gus Dur

Oleh: Syaiful Arif*

Senin, 06/01/2014 17:01

Telah empat tahun, sejak 30 Desember 2009, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita. Namun warisan pemikiran dan perjuangannya tetap menerangi gerak hidup bangsa ini. Warisan tersebut memiliki keabadian, khususnya ketika negeri ini semakin terpuruk dalam perilaku hidup nan koruptif.

Bahkan sejak 1987, Gus Dur telah merumuskan “nilai keindonesiaan” yang unik dan mendasar. Menurutnya, “nilai yang paling Indonesia” ialah pencarian tak berkesudahan akan perubahan sosial tanpa memutus sama sekali ikatan dengan masa lalu. Artinya, keindonesiaan selalu bersifat praksis: perubahan sosial menuju kehidupan sosial manusiawi (human social life). Namun asa akan perubahan itu tak harus mencerabut bangsa ini dari akar kulturalnya sendiri.

Senyata, pengagum buku Etika Nikomacheia karya Aristoteles ini kemudian mempraktikkan perubahan sosial berdasarkan nilai kultural yang paling ia cintai: Islam. Oleh karenanya, tulisan ini akan mengajak kita menilik warisan Gus Dur paling berharga…

Lihat pos aslinya 781 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s