Jangan Takut [ber]sama GusDuR, apalagi dengan mereka yang anti KPK….!:-)

Blogger Goweser Jogja

“Mas, sampeyan kan Muhammadiyah nyekek kok kayaknya pemikiran sampeyan lebih dekat ke Gusdur daripada Amin Rais?”, begitu kata beberapa teman tentang sikapku pada Gusdur.

“Dulu sampeyan aktif di Tapak Suci, PS HW, terus juga ikut aktif di Organisasi underbouw Muhammadiyah, iya kan?”, begini model pertanyaan dari mereka yang sedikit mengenalku.

Biasanya aku hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan mereka. Pertanyaan itu lebih dekat ke pertanyaan retoris dibanding pertanyaan yang butuh jawaban.

Di beberapa masjid yang kusinggahi saat sering safari Jumatan di Sumatera Utara, nama Gusdur kadang disebut-sebut oleh khotib dengan nada yang kurang bersahabat.

Mengingat aku bukan orang yang kontroversial, maka tentu teman-teman banyak yang heran dengan pandanganku tentang Gus Dur.

Beberapa waktu lalu, GusDur juga membuat pernyataan yang kontroversial tentang Golput, akibatnya ada beberapa orang yang tadinya mantep mau Golput malah akhirnya gak jadi Golput dan ikut nyoblos [ini subyektif banget ya, jangan diambil di hati].

Selama jadi anggota…

Lihat pos aslinya 146 kata lagi

Iklan

Gus Dur

Tdk heran ketokohannya mendunia

Random Notes

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) adalah sosok yang kontroversial di Indonesia. Setelah menjadi presiden Indonesia pada 1999, mungkin hampir setiap hari media merilis berita tentang dirinya. Gaya komentarnya yang lugas dan variatif dianggap nyleneh. Opininya yang berganti-ganti mengenai apa saja sering dianggap mencla-mencle. Saya sendiri (jika harus objektif – dan seringkali sulit) merasa bahwa Gus Dur ‘harus’ menjadi seorang presiden kala itu semata untuk beberapa alasan: menghindari perpecahan karena Indonesia belum siap menerima presiden wanita (Megawati); membuka wawasan bangsa mengenai kata ‘demokrasi’; memperbaiki dan menjalin hubungan dengan berbagai negara; memberikan teladan kepada siapa saja mengenai keterbukaan, kesederhanaan, pemikiran intelektual, pembelaan kepada kaum lemah, pluralisme, dan perdamaian. Lebih dari itu, Gus Dur rasanya tidak cocok menjadi presiden. Beliau bukan tipe seorang administrator dengan konsep manajemen kenegaraan yang baik. Manajemen negara yang terencana pernah dicontohkan oleh Suharto (minus gaya represif dan korupsi tingkat tinggi).

Saya mendengar nama Gus Dur…

Lihat pos aslinya 1.823 kata lagi